Kumpulan Kotbah

September 25, 2008

FILIPI 4:10-23

Filed under: Filipi — semuakotbah @ 3:25 am

FILIPI 4:10-23

I) Memberi:

A) ‘Tindakan memberi’ menimbulkan effek positif bagi:

1) Penerima (dalam kontex ini adalah Paulus).

Ini memang merupakan sesuatu yang logis, dan dalam kontex ini hal ini terlihat dari:

· ay 14 yang menunjukkan bahwa pemberian ini menyebabkan kesu-sahan Paulus ‘dibagi’ dengan jemaat Filipi, sehingga menjadi lebih ringan bagi Paulus.

· ay 18 yang menunjukkan bahwa kalau tadi Paulus kekurangan, maka sekarang ia cukup, bahkan berkelimpahan karena pemberian itu.

Penerapan:

Sebagian uang yang ada pada saudara, apalagi kalau saudara adalah orang yang kaya, mungkin tidak akan pernah saudara pakai sampai saudara mati, dan dengan demikian tidak berguna baik bagi saudara maupun bagi orang lain. Tetapi kalau uang itu saudara berikan kepa-da orang yang membutuhkan, itu akan sangat berguna dan menolong mereka dalam penderitaan mereka. Karena itu maulah memberi!

2) Pemberi (dalam kontex ini adalah jemaat Filipi).

Kalau yang no 1 di atas jelas merupakan sesuatu yang logis, maka yang sekarang ini kelihatannya justru sangat tidak logis. Tetapi ini benar dan ini bisa terlihat dari:

a) Ay 19: ‘Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut ke- kayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus’.

· ini sebetulnya mencakup baik jasmani maupun rohani, tetapi mungkin sekali yang lebih ditekankan adalah jasmani.

· dari 2Kor 8:1-5, terlihat bahwa jemaat Filipi (Filipi terle­tak di Makedonia – bdk. Kis 16:12) memberi dari kemiskinan mereka! Tetapi ay 19 ini menunjukkan bahwa Allah akan memba­las mereka dari kekayaanNya!

Ini jelas merupakan suatu effek yang positif bagi mereka sebagai pemberi!

Jadi, dari ay 19 ini terlihat bahwa orang yang mau memberi pasti akan mendapatkan berkat (bahkan secara jasmani), dari Tuhan. Bandingkan dengan ayat-ayat Kitab Suci ini: Amsal 11:25 19:17 21:13 22:9 28:27 Mat 5:7 2Kor 9:6-8, yang menun­jukkan bahwa kalau saudara mau memberi kepada orang yang membu­tuhkan, Allah akan memberkati saudara sehingga saudara justru akan mendapatkan effek yang positif. Sebaliknya, kalau saudara tidak mau memberi kepada orang yang membutuhkan, saudara justru akan rugi!

Tetapi tentang hal ini ada 2 hal yang perlu diperhatikan:

¨ jangan semua ini menyebabkan saudara memberi dengan pamrih!

¨ ay 19 ini tidak bisa dijadikan dasar dari Theologia Kemakmur-an, karena disini dikatakan bahwa Allah akan memenuhi ‘sega-la keperluanmu‘, bukannya ‘segala keinginanmu‘ atau ‘segala permintaanmu‘. Jadi, jelas­lah bahwa Allah itu bukanlah Allah yang memanjakan anak-anakNya dengan memenuhi segala kemauan / permintaan mereka!

Catatan: kalau saudara mau tahu lebih banyak tentang hal ini, bacalah buku saya yang berjudul Theologia Kemakmuran.

b) Ay 17: ini salah terjemahan!

NIV: ‘Not that I am looking for a gift, but I am looking for what may be credited to your account’ (= bukannya aku mencari pemberian, tetapi aku mencari apa yang bisa ditambahkan pada rekeningmu’)

‘Rekening’ ini pasti menunjuk pada pahala di surga!

Jadi, kalau ay 19 tadi menunjukkan adanya keuntungan di dunia, maka ay 17 ini menunjukkan adanya keuntungan di surga bagi si pemberi! Bandingkan dengan Mat 10:42 Mat 25:34-40.

3) Allah (ay 18b).

Ay 18b ini menunjukkan bahwa:

a) Pemberian yang diberikan kepada Paulus itu, oleh Allah diang­gap seakan-akan diberikan kepada Dia (ay 18b: ‘berkenan kepada Allah’). Bandingkan dengan Mat 10:40-42 25:40.

b) Ay 18b itu berbicara tentang ‘harum’ dan ‘korban’. Bandingkan ini dengan Kej 8:21 Im 1:9,13,17.

Ini menunjukkan bahwa pemberian jemaat Filipi kepada Paulus itu oleh Allah dianggap sebagai suatu korban yang berkenan kepada-Nya! (bdk. Ibr 13:16).

Kesimpulan: Allah juga mendapatkan effek positif!

B) Kalau suatu pemberian menimbulkan effek positif, baik bagi peneri­ma, pemberi, maupun Alah, maka sudah seharusnyalah kalau kita mau men-jadi pemberi!

Kita harus meniru jemaat Filipi yang berulang-ulang menjadi pem­beri. Hal ini terlihat dari:

a) Ay 15: terjemahannya kurang tepat.

NIV: ‘Moreover, as you Philippians know, in your early acquaint­ance with the gospel, when I set out from Macedonia, not one church shared with me in the matter of giving and receiving, except you only’ (= Lagi pula, seperti yang kamu orang-orang Filipi tahu, dalam penge-nalanmu yang mula-mula dengan Injil, pada waktu aku berangkat dari Makedonia, tidak ada gereja yang membagi dengan aku dalam hal memberi dan menerima, kecuali kamu saja).

Ayat ini menunjukkan bahwa pada waktu orang-orang Filipi ini baru mengenal Injil / baru bertobat, mereka sudah memberi kepada Paulus! Bandingkan dengan banyak orang kristen, yang sudah puluhan tahun menjadi orang kristen, tetapi tidak pernah mau memberi!

b) Ay 16: pada waktu Paulus ada di Tesalonika, jemaat Filipi memberi lagi sebanyak 1-2 x (beberapa kali).

c) Sekarang, pada waktu Paulus ada di penjara Roma, jemaat Filipi lagi-lagi mengirimkan Epafroditus untuk memberikan pemberian kepada Paulus.

Kesimpulannya: mereka tekun dalam memberi, padahal mereka dikata­kan sangat miskin (2Kor 8:1-5).

Penerapan:

· Maukah saudara meniru jemaat Filipi dalam memberi? Kalau selama ini saudara hanya mau menerima, maka saudara harus belajar dari kata-kata Yesus yang dikutip oleh Paulus: ‘Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima’ (Kis 20:35b). NIV menterjemahkan ayat ini dengan lebih baik: ‘It is more blessed to give than to receive’ (= adalah lebih diberkati memberi dari pada menerima).

· Memberikan amal dan Pekabaran Injil adalah 2 hal yang sama-sama harus dilakukan oleh orang kristen!

Ada orang kristen yang hanya mau memberitakan Injil, tetapi pada waktu melihat orang menderita dan membutuhkan pertolongan, mereka tak mau memberi apa-apa. Bagaimana Pemberitaan Injil yang tidak disertai kasih seperti ini bisa berhasil?

Sebaliknya ada orang kristen dan gereja-gereja yang senangnya hanya melakukan tindakan sosial, seperti menyumbang panti asuh- an, korban bencana alam dsb, tetapi tidak pernah memberitakan Injil! Orang-orang yang ditolong itu hanya mendapatkan pertolongan secara jasmani dan mereka mungkin senang akan hal itu, tetapi pada waktu mereka mati, mereka tetap harus pergi ke neraka, karena mereka tidak percaya kepada Yesus!

II) Menerima:

1) Paulus mau menerima pemberian dari jemaat Filipi, bahkan sampai beberapa kali (ay 15,16,18).

Ada 2 hal yang perlu diperhatikan:

a) Paulus mau menerima.

· Kita juga harus mau menerima, karena berdasarkan Kis 20:35b itu, menerima juga termasuk diberkati.

· Kalau kita terus menolak pemberian orang kepada kita, kita menyebabkan orang lain tidak bisa mengalami keadaan ‘lebih diberkati’ yang dikatakan dalam Kis 20:35b itu.

· menolak untuk menerima mungkin merupakan perwujudan dari kesombongan yang ada dalam diri kita!

Ada juga orang yang kesombongannya diwujudkan dengan selalu membalas pemberian dengan pemberian yang sama atau yang lebih besar. Ini menyebabkan pemberian orang itu, yang tujuannya untuk menolong kita, menjadi tidak ada gunanya!

Perhatikan bahwa Paulus beberapa kali menerima pemberian jemaat Filipi, dan Kitab Suci tidak pernah menyebutkan Paulus pernah mem-balas pemberian itu secara jasmani.

Kalau memang saudara membutuhkan pertolongan / pemberian, mau-kah saudara dengan rendah hati menerima pemberian / pertolongan?

b) Paulus tidak menerima seadanya pemberian dari seadanya orang:

· di Korintus ia menolak (1Kor 9:12,15,18 2Kor 11:7-9).

· di Tesalonika ia menolak (1Tes 2:9 2Tes 3:7-9).

· di Efesus ia menolak (Kis 20:33-34).

Ini menunjukkan bahwa Paulus tidak tamak dalam menerima pembe­rian. Kalau dia melihat bahwa dengan menerima pemberian itu pelayanannya bisa dirugikan, ia bisa difitnah yang tidak-tidak dsb, maka ia menolak pemberian itu.

Kesimpulan:

Dalam menghadapi pemberian, kita tidak boleh sombong sehingga meno-lak semua pemberian atau selalu berusaha membalas pemberian, tetapi juga tidak boleh tamak sehingga menerima semua pemberian, termasuk yang bisa merugikan kita / pelayanan kita / gereja kita / seluruh kekristenan!

2) Paulus menyatakan penghargaannya atas pemberian jemaat Filipi itu (ay 10,14,20).

Kalau kita mendapatkan pemberian, maka harus kita sadari bahwa Allahlah yang menggerakkan orang itu untuk menolong. Karena itu kita tidak boleh lupa bersyukur kepada Tuhan / memuji Tuhan atas pemberian yang kita peroleh (bdk. ay 10,20).

Tetapi kita juga tidak boleh mengabaikan orang yang dipakai oleh Allah untuk memberikan pemberian kepada kita itu. Kita juga harus berterima kasih kepada dia dan menghargainya (ay10,14).

Ada orang yang kalau menerima suatu pemberian merasa begitu malu sehingga tidak bisa mengucapkan terima kasih. Ini adalah kesom­bongan yang sama sekali tidak sopan, dan harus saudara buang dari hidup saudara!

3) Supaya kata-katanya tidak disalah mengerti, maka Paulus lalu menam-bahkan:

a) Ay 11-12:

· Ini ia tambahkan supaya kata-katanya dalam ay 10 tidak disalah mengerti oleh jemaat Filipi, seakan-akan ia minta diberi lagi.

· Ay 11: ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari sini:

¨ ‘belajar’.

Untuk berbuat jahat kita tidak perlu belajar karena memang kita lahir dalam dosa dan condong pada dosa (Maz 51:7 Maz 58:4 Kej 6:5 Kej 8:21). Tetapi untuk berbuat baik, kita harus belajar (bdk. Yes 1:17)!

Penerapan:

Apakah saudara betul-betul belajar untuk berbuat baik, seperti hidup / berkata jujur, berlaku tulus / tidak munafik, hidup dalam kasih / kesabaran, bersikap rendah hati, hidup bersandar kepada Tuhan dengan banyak berdoa dsb? Ingat bahwa tanpa mau belajar, saudara tidak mungkin bisa ber­buat baik!

¨ ‘mencukupkan diri’. Ini terjemahan yang kurang tepat!

NIV: ‘to be content’ (= puas).

Puas jelas tidak sama dengan ‘mencukupkan diri’! Ada banyak orang yang bisa mencukupkan diri dengan penghasilannya, tetapi tidak merasa puas.

Puas juga tidak sama dengan suatu penyerahan yang apatis pada takdir!

Puas berarti kita tidak iri kepada orang lain, tidak bersungut-sungut, tidak marah / kecewa kepada Tuhan, tidak lari ke dalam dosa, tetapi bisa tetap bersukacita dan beriman!

Apakah saudara mau belajar untuk puas dalam segala keadaan?

¨ Kata-kata ‘segala keadaan’ dalam ay 11b diperjelas oleh Paulus dalam ay 12.

· Ay 12 salah terjemahan!

NIV: ‘I have learned the secret of being content in any and every situation, whether well fed or hungry, whether living in plenty or in want’ (= aku telah belajar rahasia untuk puas dalam sembarang dan setiap keadaan, apakah kenyang atau lapar, apakah hidup dalam kelimpahan atau kekurangan).

Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari sini:

* Paulus belajar untuk puas dalam kekurangan / lapar.

Þ ini jelas menunjukkan bahwa Theologia Kemakmuran ada-lah ajaran yang tidak alkitabiah, karena kalau orang yang beriman dan taat pasti kaya, lalu apa gunanya Paulus belajar untuk puas dalam kekurangan / lapar?

Þ ini tidak berarti kita boleh membiarkan orang yang keku-rangan / lapar, dengan tujuan untuk ‘melatih’ dia supaya bisa puas dalam kekurangan / lapar! Melatih adalah peker-jaan Tuhan, bukan pekerjaan saudara!

Þ puas tidak berarti bahwa kita tidak boleh berusaha memper­baiki keadaan yang jelek kalau hal itu memungkinkan!

Þ Paulus juga belajar untuk puas dalam keadaan sakit (2Kor 12:7-10).

Jadi, ada banyak keadaan dimana kita harus belajar untuk puas. Dalam hal apa saudara sering merasa tidak puas? Maukah saudara belajar untuk puas dalam hal itu?

* Paulus belajar untuk puas dalam kelimpahan / kenyang.

Þ ‘kelimpahan’ tidak berarti bahwa Paulus pernah menjadi jutawan / milyarder. ‘Kelimpahan’ disini adalah sesuatu yang relatif, karena bagi orang rohani seperti Paulus, kalau ia mempunyai uang berlebihan sedikit saja, ia sudah merasa kelimpahan!

Þ bahwa Paulus perlu belajar untuk puas dalam keadaan kelim­pahan / kenyang, menunjukkan bahwa kelimpahan bukanlah sesuatu yang lebih mudah untuk dijalani dari pada kekurangan!

Kelimpahan memberikan banyak pencobaan seperti: som-bong, lupa Tuhan, dosa-dosa yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang kelebihan uang (seperti punya istri ke 2 dsb).

Disamping itu, kekayaan tidak biasanya memberikan kepu-asan kepada pemiliknya, tetapi sebaliknya biasanya mem-berikan kehausan akan kekayaan yang lebih banyak lagi!

Ini menyebabkan banyak penafsir yang berkata bahwa lebih sukar untuk puas dalam kelimpahan dari pada dalam kekurangan!

* Paulus mengalami naik turun secara jasmani dalam hidupnya! Sebentar ia kelimpahan / kenyang, besoknya kekurangan / lapar! (bdk. Maz 23:2,4).

Perubahan-perubahan seperti ini justru sangat menyukarkan untuk puas! Kalau seseorang sudah biasa tidur beralaskan tikar, makan nasi dengan tahu tempe dsb, maka itu tidak lagi meru­pakan problem bagi dia. Tetapi kalau ia lalu jadi kaya sehingga bisa tidur di kasur yang empuk, makan steak dsb, dan suatu kali ia kembali miskin, maka pasti akan sukar sekali untuk bisa puas!

Kalau saudara mengalami keadaan yang berubah-ubah seperti ini, bersyukurlah bahwa Tuhan mempercayai saudara untuk ‘belajar di 2 buah sekolah’ sekaligus!

Bahwa Paulus bisa puas dalam kondisi yang berubah-ubah ini, betul-betul merupakan sesuatu yang luar biasa!

b) Ay 13:

· Ini ditambahkan oleh Paulus supaya jemaat Filipi tidak mengang-gap bahwa ia bisa puas dalam segala keadaan karena kehebatan dirinya sendiri!

· kata-kata ‘segala perkara’, seharusnya adalah ‘segala hal’ (NASB: ‘all things’).

Ada 2 penafsiran tentang bagian ini:

* sesuai dengan kontex, ini hanya menunjuk pada kelimpahan, kekurangan, kenyang, dan lapar.

* Paulus beralih dari hal-hal tertentu pada hal yang umum. Jadi ini mencakup semua hal secara umum.

Saya lebih setuju pandangan ini, dengan alasan: ayat ini seharusnya bukan berbunyi ‘segala hal dapat kutanggung‘, tetapi ‘segala hal dapat kulakukan‘ (‘I can do all things’ – NASB).

Ini tentu tak berarti bahwa Paulus menjadi orang yang mahakua­sa. Tentu ia tetap dibatasi oleh kehendak Tuhan!

· ‘di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku’.

Inilah ‘rahasia’ yang ia maksudkan dalam ay 12. Rahasia se­hingga ia bisa puas dalam segala keadaan, adalah karena ia selalu bersandar kepada Tuhan!

· Fil 4:13 ini mempunyai pasangan, yaitu Yoh 15:5b yang berbunyi ‘di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa’.

Seseorang mengatakan: ‘Without Him we can do nothing; in Him we can do everything’ (= tanpa Dia kita tidak bisa berbuat apa-apa; di dalam Dia kita bisa melakukan segala sesuatu)!

c) Ay 17: ini salah terjemahan!

NIV: ‘Not that I am looking for a gift, but I am looking for what may be credited to your account’ (= bukannya aku mencari pemberian, tetapi aku mencari apa yang bisa ditambahkan pada rekeningmu).

Ini menunjukkan bahwa Paulus bukannya senang karena pemberian itu sendiri, tetapi karena pemberian itu akan memberikan pahala kepada jemaat Efesus di surga!

Ini lagi-lagi menunjukkan bahwa ia bebas dari segala egoisme dan ketamakan!

Kesimpulan:

Paulus menerima pemberian dengan sikap yang memuliakan Tuhan! Ada orang-orang kristen yang menerima pemberian dengan sikap yang mempermalukan Tuhan, seperti:

· gereja-gereja di USA yang betul-betul ‘mengemis’ di TV dan menunjukkan sikap bahwa mereka bersandar bukan kepada Tuhan tetapi kepada orang-orang yang mau memberi persembahan.

· orang yang setelah menerima pemberian lalu berterima kasih / bersaksi dengan cara sedemikian rupa sehingga orang yang memberinya / orang-orang lain mau memberinya lagi!

Kesimpulan:

Kalau saudara bisa memberi kepada orang yang membutuhkan, berilah! Seba­liknya, kalau saudara memang membutuhkan dan ada orang yang memberi kepada saudara, terimalah dengan sikap yang memuliakan Tuhan!

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: