Kumpulan Kotbah

September 25, 2008

FILIPI 4:2-3

Filed under: Filipi — semuakotbah @ 3:27 am

FILIPI 4:2-3

I) Euodia & Sintikhe:

1) Mereka adalah orang perempuan.

Alasannya:

a) Nama-nama itu adalah nama-nama perempuan.

b) Ay 3: ‘tolonglah mereka’.

Kata ‘mereka’ dalam bahasa Yunaninya adalah AUTAIS, yang berarti ‘mereka’ tetapi kata ini ada dalam bentuk feminine / perempuan (ingat bahwa dalam bahasa Yunani, setiap kata benda mempunyai ‘jenis kelamin’!).

Karena itu NIV / NASB menterjemahkan ‘help these women’ (= tolonglah perempuan-perempuan ini).

2) Mereka adalah orang kristen yang sejati.

Ay 3 mengatakan bahwa nama mereka, bersama-sama dengan Klemens & kawan-kawan sekerja Paulus yang lain, tercantum dalam Kitab Kehi-dupan.

Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari sini:

a) Kitab Kehidupan:

· Kitab Kehidupan mencatat nama-nama orang yang akan masuk ke surga. Jadi, orang yang namanya tercantum dalam Kitab Kehidup-an akan masuk surga (Wah 21:27), sedangkan orang yang nama-nya tidak tercantum dalam Kitab Kehidupan akan masuk ke neraka (Wah 20:12-15).

· Dicatat atau tidaknya nama seseorang dalam Kitab Kehidupan sudah dilakukan oleh Allah sejak dunia dijadikan (Wah 13:8 17:8), dan ini menunjukkan adanya Predestinasi (penentuan Allah ten-tang siapa yang akan masuk surga / neraka). Kalau dari sini saudara masih belum mau menerima doktrin tentang Predestinasi, bacalah Ef 1:4,5,11 dan Ro 9:10-24.

b) Nama orang-orang yang tercantum dalam Kitab Kehidupan:

· dari mana Paulus tahu bahwa nama-nama mereka tercantum dalam Kitab Kehidupan? Ada 2 kemungkinan:

* dari buah kehidupan mereka (Mat 7:15-20), yang menunjukkan iman mereka.

* dari wahyu Tuhan.

· Klemens.

Ada yang menganggap ini adalah Clement of Rome, tetapi ini hanyalah suatu spekulasi.

· kawan-kawan sekerja Paulus yang lain:

* Paulus adalah seorang rasul, dan juga adalah pendiri gereja Filipi, tetapi ia menyebut mereka ‘kawan sekerja’. [NIV/NASB: ‘fellow workers’ (= kawan / sesama pekerja)]. Ini menunjukkan kerendahan hati Paulus!

Penerapan:

Orang yang sering membanggakan dirinya karena dirinya adalah Pendiri, Synode / Majelis / Pengurus, Pendeta / Penginjil dari suatu gereja, harus belajar untuk rendah hati seperti Paulus!

* Siapa nama orang-orang ini? Paulus tidak menyebutkan, sehingga nama mereka tidak tercantum dalam Kitab Suci. Tetapi ini sebe­tulnya tidak jadi soal, karena yang penting adalah bahwa nama mereka tercantum dalam Kitab Kehidupan! (bandingkan dengan Yudas Iskariot, yang namanya tercantum dalam Kitab Suci, tetapi tidak dalam Kitab Kehidupan!).

Penerapan:

Apakah saudara mempersoalkan apakah nama saudara tercantum di gereja (sebagai anggota gereja, majelis, pengurus dll) atau tidak? Ini tidak penting untuk keselamatan saudara! Yang penting adalah apakah nama saudara tercantum dalam Kitab Kehidupan atau tidak! Ada banyak orang yang namanya tercantum di gereja, tetapi tidak dalam Kitab Kehidupan! Apa gunanya? Bukankah lebih baik seperti kawan-kawan sekerja Paulus ini, dan juga seperti penjahat yang bertobat di salib, yang namanya tidak tercantum dalam gereja, tetapi tercantum dalam Kitab Kehidupan?

· Euodia dan Sintikhe.

Tercantumnya nama mereka dalam Kitab Kehidupan jelas membukti­kan bahwa mereka adalah orang pilihan dan orang kristen yang sejati!

Adanya keretakan di antara mereka, tidak membuktikan bahwa mereka adalah orang kafir! Ingat bahwa Paulus dan Barnabas yang begitu rohanipun, bisa mengalami perpecahan (Kis 15:35-39).

3) Mereka adalah orang kristen yang aktif (ay 3).

a) Sekalipun mereka adalah orang perempuan, tetapi mereka melayani / mengabarkan Injil!

Seringkali orang perempuan menganggap bahwa pelayanan adalah tugas orang laki-laki, sedangkan diri mereka tidak perlu melayani, karena mereka adalah orang yang lemah. Ini jelas merupakan ang-gapan yang salah. Bagi saudara yang perempuan, tirulah 2 orang ini! Dan bagi saudara yang laki-laki, tidak malukah saudara ‘mengang­gur’ padahal 2 perempuan ini melayani?

b) Dua perempuan ini betul-betul melayani mati-matian.

Ay 3: ‘berjuang’ (Lit: ‘struggle’).

Ini menunjukkan suatu perjuangan yang mati-matian, bahkan suatu pergumulan!

Memang pelayanan, apalagi Pekabaran Injil, tidak bisa dilakukan dengan santai, asal-asalan, setengah hati dsb!

Harus ada usaha maximal dalam:

· memikirkan dan merenungkan cara yang terbaik.

· meningkatkan pelayanan dengan memperbaiki apa yang masih kurang.

· doa.

· pengudusan diri.

· bertahan mengha­dapi serangan setan dalam bentuk apapun!

Penerapan:

Apakah saudara sudah berjuang mati-matian dalam pelayanan / Pekabaran Injil? Berapa hebatnya saudara berusaha dalam Pekabaran Injil / mengajak orang ke gereja? Berapa banyak saudara berdoa untuk mendukung pelayanan saudara / gereja saudara? Apakah saudara berusaha mening­katkan mutu pelayanan saudara? Apakah saudara berusaha mati-matian dalam pengudusan diri?

II) Hubungan Euodia dan Sintikhe:

Dari ay 3, dimana dikatakan bahwa dahulu mereka berjuang bersama-sama dengan Paulus dalam Pekabaran Injil, maka dapatlah disimpulkan bahwa dahulu mereka mempunyai hubungan yang baik. Tetapi, sekarang hubungan mereka berubah. Apa yang terjadi di antara mereka?

Dalam ay 2 dikatakan bahwa Paulus menasehati mereka supaya ‘sehati sepikir dalam Tuhan’.

NASB: ‘to live in harmony in the Lord’ (= hidup dalam keharmonisan di dalam Tuhan).

NIV: ‘to agree with each other in the Lord’ (= setuju satu dengan yang lain di dalam Tuhan).

Lit: ‘to think the same thing in the Lord’ (= memikirkan hal yang sama di dalam Tuhan).

Paulus tidak mengatakan bahwa mereka harus berdamai, menahan emosi, saling mengampuni / memaafkan dsb.

Jadi, rupa-rupanya mereka bukan saling membenci, bermusuhan, geger­an secara terbuka dsb. Di antara mereka mungkin hanya ada keretakan yang disebabkan oleh ketidakcocokan dalam cara bekerja, dan ini mungkin sekali menyangkut hal yang bukan prinsip, tetapi hanya perbedaan kebijaksanaan saja (kalau soal prinsip, pasti Paulus menegur pihak yang salah!). Ini justru merupakan sesuatu yang harus disayangkan! Kita harus berani mengorban-kan perdamaian, kalau itu mempersoalkan sesuatu yang prinsip. Toleransi dalam hal yang prin­sip, sebetulnya bukanlah toleransi, tetapi kompromi, dan ini adalah dosa! Tetapi, kalau hanya mengenai perbedaan cara kerja / kebijak­sanaan dsb, maka kita harus saling toleransi!

III) Sikap dan tindakan Paulus:

1) Dari apa yang Paulus lakukan dalam ay 2-3, terlihat bahwa ia mengang-gap keretakan ini sebagai sesuatu yang serius. Ini dise­babkan karena:

a) Ciri kekristenan / orang kristen bukanlah sekedar tidak benci / tidak bermusuhan, tetapi kasih (Yoh 13:35).

b) Hubungan kita dengan sesama saling mempengaruhi dengan hubung-an kita dengan Tuhan.

· kalau hubungan dengan Allah rusak, maka hubungan dengan sesama juga akan rusak.

Dalam Kej 3, setelah dosa masuk dan merusak hubungan Allah dan manusia, maka hubungan Adam dengan Hawa langsung ter-pengaruh (Kej 3:12), dan sebentar lagi terjadi pembunuhan oleh Kain terhadap Habel (Kej 4).

Penerapan:

Jangan meremehkan hubungan saudara dengan Allah! Kalau saudara ingin hubungan saudara dengan keluarga saudara baik, maka saudara dan keluarga saudara harus sama-sama mendekat kepada Allah!

· kalau hubungan dengan sesama rusak, hubungan dengan Allah juga akan rusak (1Yoh 4:20-21 Mat 5:23-24).

Keretakan antara Euodia dan Sintikhe sedikit banyak akan me-renggangkan hubungan mereka dengan Allah!

c) Keretakan antara mereka berdua menyebabkan mereka sukar / tidak bisa bekerja sama. Dan ini akan mempengaruhi pelayanan dari seluruh gereja Filipi!

d) Keretakan ini bisa berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar, seperti kebencian, pertengkaran yang terbuka dsb!

2) Paulus menasehati kedua-duanya (ay 2).

a) Ia tidak hanya menasehati salah satu saja.

Kalau si A merugikan / menyakiti si B sehingga si B menjadi jengkel / marah / membalas, maka tidak adil kalau kita hanya menegur si B saja. Kita harus menegur si B supaya tetap sabar, tetapi kita juga harus menegur si A supaya berhenti merugikan / menyakiti si B.

b) Paulus sendiri turun tangan untuk menasehati.

· ia tak menghindari tugas yang tidak enak.

Apakah saudara hanya mau tugas yang enak saja dalam melayani Tuhan? Kalau ya, ingatlah bahwa pelayanan tanpa pengorbanan, bukanlah pelayanan!

· ia tak gampang-gampang mengoperkan tugas kepada orang lain. Kalau akhirnya ia minta tolong kepada seseorang untuk meno­long dua perempuan itu (ay 3a), itu disebabkan saat itu Paulus sedang ada di penjara, sehingga tak mungkin melakukan hal itu sendiri!

Apakah saudara sering mengoperkan pelayanan kepada orang lain?

c) Nasehatnya: supaya mereka sehati sepikir dalam Tuhan.

· dua orang bisa sama-sama ada di dalam Tuhan, tetapi tidak sehati sepikir. Ini 2 orang kristen yang gegeran.

· dua orang bisa sehati sepikir, tetapi mereka berdua tidak ada di dalam Tuhan. Ini merupakan persekutuan / persahabatan / kecocokan antara 2 orang kafir.

Paulus tidak menghendaki yang manapun dari 2 hal tersebut di atas. Ia menghendaki supaya mereka sehati-sepikir dalam Tuhan.

Nasehat Paulus ini menunjukkan bahwa semua perpecahan bisa diperdamaikan di dalam Tuhan, asalkan kedua pihak mau. Karena itu dalam persoalan seperti ini, hati-hatilah dengan sikap:

* tegar tengkuk.

* tidak mau mengalah.

* jaga gengsi.

Ini menyebabkan tidak bisanya terwujud perdamaian.

3) Paulus minta tolong orang lain untuk menolong Euodia dan Sin­tikhe (ay 3).

Ay 3 ini diterjemahkan secara beraneka ragam:

Kitab Suci Indonesia (TB): ‘Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia, tolonglah mereka’.

Kitab Suci Indonesia (TL): ‘Bahkan, kepada engkaupun, hai (Sinsigus) temanku yang benar, aku mintalah menolong kedua perempuan itu’.

NIV: ‘Yes, and I ask you, loyal yoke-fellow, help these women’ (= Ya, dan kuminta kepadamu, teman sekerja yang setia, tolonglah perempuan-perempuan ini).

Untuk kata-kata yang saya garisbawahi, NIV memberikan footnote ‘loyal Syzyangus’.

Dalam terjemahan Kitab Suci bahasa Inggris yang lain, tidak ada kata Sunsugos / Sinsigus / Syzyangus.

Terjemahan-terjemahan itu bisa berbeda satu sama lain, karena kata Yunani yang diterjemahkan ‘teman / yoke-fellow’ adalah SUZUGE.

Ada beberapa penafsiran tentang kata ini:

a) Itu adalah nama orang.

Alasannya:

· ada beberapa manuscript yang menuliskan kata ‘Suzuge’ itu dengan menggunakan huruf besar sebagai huruf pertama.

· kalau ini bukan nama, bagaimana mungkin orang yang dimintai tolong itu tahu bahwa dirinyalah yang dimintai tolong oleh Paulus?

Kalau memang penafsiran ini benar, maka ay 3 itu seharusnya berbu-nyi: ‘Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos yang setia, tolonglah mereka’ (kata ‘teman’ harus dihapuskan!).

b) Itu bukan nama orang.

Alasannya:

· mayoritas manuscript tidak menggunakan huruf besar sebagai huruf pertama dari kata ‘Suzuge’.

· kalau Paulus berani menuliskan tanpa menyebut nama, maka pastilah Paulus tahu bahwa kata-kata ‘teman yang setia / benar’ itu sudah cukup jelas bagi orang yang ia maksudkan.

Kalau penafsiran ini yang benar, maka ay 3 itu seharusnya berbunyi: ‘Bahkan, kuminta kepadamu juga, teman yang setia, tolonglah mereka’ (kata ‘Sunsugos’ harus dihapuskan).

Kebanyakan penafsir mengambil pandangan ini!

c) Clement of Alexandria menganggap bahwa yang Paulus maksudkan dengan ‘teman / yoke-fellow‘ adalah istri Paulus. (yoke = kuk; fellow = teman / sesama).

Tetapi ada 2 hal yang tidak memungkinkan pandangan ini:

· Kata Yunani yang diterjemahkan ‘loyal / setia / benar’ adalah GNESIE, yang ada dalam bentuk masculine / laki-laki, sehingga tidak mungkin menunjuk pada seorang perempuan!

· Dari 1Kor 7:8 terlihat dengan jelas bahwa Paulus tidak mempunyai istri.

Catatan: Paulus memang pernah punya istri. Alasannya: ia dulu anggota Mahkamah Agama Yahudi, dan ‘sudah kawin’ merupakan persyaratan keanggotaan. Tetapi mungkin istrinya mati atau mencerai-kannya ketika ia menjadi orang kristen.

Kita tak tahu dengan pasti siapa orang itu. Yang penting adalah bahwa setelah Paulus menasehati Euodia dan Sintikhe, Paulus masih minta tolong lagi kepada seseorang untuk menolong Euodia dan Sintikhe. Ini menunjukkan bahwa ia berusaha mati-matian untuk membereskan persoalan itu!

Penerapan:

· kalau saudara melihat ada 2 orang yang tak sehati / bertengkar:

* jangan malah mengadu domba dengan menceritakan kepada si A hal jelek tentang dia yang dikatakan oleh si B.

* jangan bersikap acuh tak acuh / menganggap remeh. Sebaliknya, anggaplah itu sebagai sesuatu yang serius dan berusahalah secara maximal untuk mendamaikan.

· kalau saudara sendiri yang mengalami keretakan / pertengkaran dengan orang lain, maka berusahalah untuk membereskan dengan:

* banyak berdoa.

* mengajak orang itu membicarakan persoalan itu.

* minta maaf (kalau memang saudara salah).

* minta tolong orang lain sebagai pengantara.

Penutup:

Maukah saudara menjadi pembawa damai? Firman Tuhan berkata: ‘Berba-hagialah orang yang membawa damai karena mereka akan disebut anak-anak Allah’ (Mat 5:9).

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: