Kumpulan Kotbah

September 25, 2008

FILIPI 4:6-7

Filed under: Filipi — semuakotbah @ 3:22 am

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Tms Rmn”; panose-1:2 2 6 3 4 5 5 2 3 4; mso-font-alt:”Times New Roman”; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; mso-layout-grid-align:none; punctuation-wrap:simple; text-autospace:none; font-size:10.0pt; font-family:”Tms Rmn”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:21.0cm 842.0pt; margin:3.0cm 3.0cm 3.0cm 3.0cm; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:-2; mso-list-type:simple; mso-list-template-ids:-1753725100;} @list l0:level1 {mso-level-start-at:0; mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:*; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:0cm; text-indent:0cm;} @list l0:level1 lfo1 {mso-level-start-at:1; mso-level-numbering:continue; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; mso-level-legacy:yes; mso-level-legacy-indent:18.0pt; mso-level-legacy-space:0cm; text-indent:-18.0pt; font-family:Symbol;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

FILIPI 4:6-7

Pendahuluan:

Orang dunia melakukan segala hal untuk bisa mendapatkan kebahagiaan, tetapi yang mereka dapatkan hanyalah kebahagiaan / kesenangan yang semu, yang bersifat lahiriah (ada di luar saja) dan sementara. Kitab Suci dengan jelas menunjukkan bahwa damai hilang karena masuknya dosa ke dalam dunia (Kej 3:6-10) dan bahwa orang berdosa / fasik tidak mungkin bisa mempunyai damai / kebahagiaan yang sejati (Yes 48:22 Amsal 28:1a).

Tetapi Yesus mengundang semua orang berdosa untuk datang kepadaNya dengan janji bahwa orang yang mau datang kepadaNya akan mendapatkan damai (Mat 11:28-29), dan Ia juga berkata bahwa damai yang Ia berikan tidak sama dengan damai yang diberikan oleh dunia (Yoh 14:27), dan itu menunjuk­kan bahwa damai yang Ia berikan adalah damai yang sejati, yang ada di dalam hati dan yang bersifat kekal!

Tetapi, adalah suatu fakta bahwa damai yang ada pada diri kita sebagai orang-orang kristenpun sering mengalami pasang surut, bahkan kadang-kadang hilang sama sekali, dan digantikan dengan rasa sedih, takut, kuatir, gelisah, sumpek, putus asa, depresi dsb! Mengapa demikian?

1) Karena damai terjadi di dalam diri kita kalau ada persekutuan yang baik antara kita dengan Allah.

Pada waktu kita percaya Yesus, kita diper­damaikan dengan Allah, dan karena itu kita mengalami damai. Tetapi dalam hidup kristen kita, kalau kita berbuat dosa, apalagi kalau kita dengan sengaja memegangi dosa-dosa ter-tentu, maka sekalipun kita tetap adalah anak Allah dan kita tidak kehilangan keselamatan kita, tetapi persekutuan kita dengan Allah menjadi rusak. Dan ini menyebabkan surutnya / hilangnya damai di dalam diri kita itu! (bdk. Yes 48:18).

2) Damai adalah salah satu dari buah Roh Kudus (Gal 5:22).

Disebut ‘buah’ menunjukkan bahwa damai itu membutuhkan waktu untuk bisa bertumbuh menjadi besar dan matang sehingga menjadi damai yang tidak tergoyahkan oleh situasi dan kondisi apapun. Dan jelas juga ada hal-hal yang harus kita lakukan untuk menumbuhkan damai sehingga menca­pai tingkat seperti itu.

Bacaan Kitab Suci hari ini menunjukkan adanya hal-hal yang harus kita lakukan sehingga bisa mempunyai damai yang tak tergoyahkan.

I) Jangan kuatir tentang apapun juga (ay 6a):

1) Takut / kuatir jelas merupakan dosa, karena takut / kuatir menunjuk­kan ketidakpercayaan kepada Allah (bdk. Mat 6:25-34 8:26). Disamping itu, takut / kuatir jelas bertentangan sekali dengan damai. Dimana ada rasa takut / kekuatiran, pasti tidak ada damai.

2) Ada juga orang-orang yang tidak takut / kuatir, tetapi ini disebab­kan karena mereka bergantung / berharap pada harta mereka, diri mereka sendiri / orang lain. Ini justru adalah hal yang dikecam oleh Tuhan. Tuhan ingin kita tidak takut / kuatir karena kita percaya kepada Dia (bdk. Yes 31:1 Yer 17:5-8 bdk. Maz 23:4).

3) Supaya kita bisa tidak takut / kuatir, maka kita harus mengenal Tuhan dengan benar, khususnya kasihNya, kesetiaanNya, kemahakuasaan­Nya, kebijaksanaanNya dan kedaulatanNya. Karena itu maulah mendengar / belajar pelajaran doktrinal tentang sifat-sifat Allah, dan jangan mengang-gap itu sekedar sebagai pelajaran teoritis yang tidak berguna dalam hidup sehari-hari.

II) Berdoa dengan ucapan syukur (ay 6b):

Saya akan membahas ay 6b ini bagian per bagian:

1) ‘Tetapi nyatakanlah … kepada Allah dalam doa dan permohonan’ (ay 6).

Kata ‘tetapi’ selalu mengkontraskan bagian yang sebelumnya dan bagian yang sesudahnya. Jadi, dalam ay 6 ini, kata ‘tetapi’ itu mengkontraskan ‘kuatir’ (ay 6a) dengan ‘doa’ (ay 6b)!

Tyndale Commentary:

‘Anxiety and prayer are more opposed to each other than fire and water’ (= kekuatiran dan doa lebih bertentangan satu dengan yang lain dibandingkan dengan api dan air).

Banyak berdoa membuat kita kuat menghadapi problem / bahaya, dan sebaliknya, jarang / tidak berdoa membuat kita semakin lemah dan semakin mudah kuatir.

Seseorang mengatakan:

‘Seven days without prayer makes one weak’ (= tujuh hari tanpa doa membuat seseorang jadi lemah).

Ini adalah permainan kata yang indah, karena 7 hari sebetulnya adalah one week (= satu minggu), tetapi 7 hari tanpa doa membuat seseorang menjadi weak (= lemah).

Karena itu, setiap kali dalam diri saudara timbul rasa takut / kuatir karena timbulnya suatu problem / bahaya, maka ceritakanlah semua­nya kepada Allah dalam doa! (bdk. 1Pet 5:7 – ‘Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu’).

Dalam Kitab Suci kita melihat banyak orang yang melakukan hal ini, dan mereka menang!

· Hizkia dalam 2Raja-raja 19:1-37, khususnya ay 14-19.

· Daud dalam 2Sam 15:31.

· jemaat abad I dalam Kis 4:24.

Maukah saudara meniru apa yang mereka lakukan?

2) ‘Segala hal’ (ay 6).

a) Kita harus membawa segala hal dalam doa kepada Tuhan. Itu berarti bahwa kita harus / boleh membawa baik hal yang besar maupun kecil kepada Tuhan!

William Barclay:

‘There is nothing too great for God’s power; and nothing too small for his fatherly care’ (= tidak ada yang terla­lu besar untuk kuasa Allah, dan tidak ada yang terlalu kecil untuk kasih / perhatian kebapaanNya).

b) Kita tidak boleh takut / sungkan untuk meminta sesuatu yang besar kepada Allah! Sebetulnya dengan kita berani meminta sesuatu yang besar kepada Allah, maka kita menghargai / mengakui kebesaran Allah yang sanggup memberikan hal yang bagaimanapun besarnya.

Illustrasi:

Pada jaman Alexander yang Agung ada seorang ahli filsafat. Suatu hari ahli filsafat ini mengalami problem keuangan, dan Alexander yang Agung menyatakan akan memberikan apapun yang ia minta. Ahli filsafat itu lalu meminta 10.000 pounds! Bendahara kaget melihat jumlah sebesar itu, dan meminta pertim­bangan dari Alexander yang Agung. Tetapi Alexander yang Agung berkata: “Bayarkanlah jumlah itu dengan segera. Aku senang dengan cara berpikir dari ahli filsafat itu, karena dengan meminta jumlah sebesar itu, terlihat bahwa ia mempunyai pemikiran yang tinggi tentang kebesaran dan kekayaanku”.

Seringkali orang kristen tak berani meminta sesuatu yang besar kepada Tuhan, bukan karena mereka tidak tamak, tetapi karena mereka tidak percaya akan kemahakuasaan Tuhan!

c) Juga, kalau Tuhan menyuruh kita untuk membawa segala hal dalam doa kepadaNya, maka itu memberikan jaminan kepada kita bahwa Ia tidak mungkin bosan dengan permintaan / doa kita. Karena itu, di dalam berdoa kepada Tuhan, jangan sekali-kali berpi­kir bahwa Tuhan bisa bosan mendengar doa saudara!

Tyndale Commentary:

‘The whole burden of the whole life of every man may be rolled on to God and not weary him, though it has wearied the man’ (= seluruh beban dari seluruh kehidupan dari setiap orang boleh dibawa kepada Allah dan tidak akan membosankan Dia, sekali­pun hal itu membosankan orang itu).

Penerapan:

Adakah hal yang sudah lama sekali saudara doakan, sampai saudara sendiri sudah bosan mendoakannya sehingga saudara ingin berhenti mendoakan hal itu? Teruskanlah mendoakan hal itu (asal itu bukanlah permintaan yang bertentangan dengan Firman Tuhan) dengan perca-ya bahwa sekalipun saudara sendiri sudah bosan mendoakannya, Allah tidak akan bosan mendengarnya!

d) Kalau kita betul-betul membawa ‘segala hal’ kepada Tuhan, maka kita pasti harus menggunakan banyak sekali waktu untuk berdoa. Kalau saudara hanya berdoa kurang dari 5 menit setiap hari, maka saudara pasti tak mungkin bisa mentaati ay 6 ini!

Tetapi kebanyakan orang kristen bukannya menggunakan banyak waktu untuk berdoa, tetapi untuk bersungut-sungut!

Seseorang mengata­kan:

“If christians spent so much time praying as they do grum­bling, they would soon have nothing to grumble about”

(= kalau orang-orang kristen mengguna-kan begitu banyak waktu untuk berdoa sama seperti yang mereka gunakan untuk bersungut-sungut, maka dalam waktu singkat tidak ada lagi hal untuk mana mereka perlu bersungut-sungut).

3) ‘Keinginanmu’ (ay 6). Ini terjemahan yang kurang tepat!

NIV / NASB / Lit: ‘requests’ (= permintaan-permintaanmu).

Kata ini ada dalam bentuk jamak, dan lagi-lagi menunjukkan bahwa kita harus banyak berdoa / meminta.

4) ‘Dengan ucapan syukur’ (ay 6).

Ada orang-orang yang banyak berdoa kepada Tuhan, tetapi mereka memenuhi doa mereka dengan keluhan-keluhan dan sungut-sungut, seakan-akan mereka punya alasan untuk menuduh dan menyalahkan Tuhan. Ini adalah doa yang dinaikkan tanpa iman / trust kepada Tuhan!

Kalau dalam diri kita ada iman / trust pada Tuhan (pada kasih, kesetiaan, kebijaksanaan Tuhan, juga pada Ro 8:28), dan kalau dalam diri kita ada ketundukan pada kehendak Allah, maka kita bisa berdoa dengan mengucap syukur, tidak peduli apapun jawaban Tuhan atas doa kita.

III) Damai (ay 7):

Kalau kita mau dan bisa melaksanakan seluruh ay 6, maka akibatnya adalah ay 7!

1) ‘Damai sejahtera Allah’ (ay 7).

· karena adanya doa yang disertai iman / trust dan ketundukan pada kehendak Allah (ay 6), maka akan ada damai di dalam diri kita! (bdk. Yes 26:3).

· Ini adalah ‘damai sejahtera Allah’ yang berbeda dengan damai / kebahagiaan / kesenangan yang dari dunia (bdk. Yoh 14:27)!

2) ‘Melampaui segala akal’ (ay 7).

Damai yang dari Allah itu dikatakan melampaui segala akal, karena itu tidak akan bisa dimengerti, khususnya oleh orang dunia! Dalam situasi dimana orang seharusnya takut / kuatir, maka orang kristen yang mau dan bisa melakukan ay 6 itu bisa tetap damai dan sukacita!

Contoh: Mat 8:24b Kis 5:41 12:6 16:25.

Kalau kita bisa mempunyai damai yang seperti ini, maka ini akan menjadi kesaksian tersendiri bagi orang-orang kafir di sekitar kita, dan bahkan mungkin bisa menarik mereka untuk datang kepada Kristus!

3) ‘Akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus’ (ay 7).

KJV / RSV: ‘keep’ (= menjaga / memelihara).

NIV / NASB: ‘guard’ (= menjaga / mengawal).

Terjemahan NIV / NASB lebih tepat karena kata Yunaninya merupa­kan suatu istilah militer.

Jadi, kalau kita mau dan bisa melakukan ay 6, maka damai sejah­tera Allah itu akan mengawal hati dan pikiran kita sama seperti sepasukan tentara mengawal sebuah benteng, sehingga kita akan tetap mempunyai damai dalam situasi dan kondisi apapun!

Penutup:

· Orang kafir / fasik mengalami badai dalam damai.

Artinya, sekalipun keadaan sebetulnya tenang-tenang saja, tetapi mereka tetap gelisah / takut / kuatir dsb (bdk. Amsal 28:1 – ‘orang fasik lari sekalipun tidak ada yang mengejar’).

· Orang kristen pada umumnya, mengalami damai kalau tidak ada badai.

Ini adalah orang kristen yang hatinya tergantung situasi dan kondisi. Kalau keadaan baik-baik saja, maka mereka mengalami damai. Tetapi begitu keadaan menjadi buruk, maka mereka menjadi kuatir / gelisah / takut dsb.

· Orang kristen yang mau dan bisa melakukan Fil 4:6, akan mengalami damai ditengah-tengah badai! Ini tentu merupakan suatu kehidupan yang lebih memuliakan Allah! Maukah saudara menjadi orang kristen seperti ini?

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: